Barrack Obama di Jum’at Agung di Arnhem

Jum’at Agung tahun 2008 PD Wageningen diajak Kak Tini Saloh mengikuti kebaktian di GKIN (Gereja Kristen Indonesia Netherlands) di kota Arnhem.
Pembacaan Firman Tuhan-nya dari Matius 27:27-50. Pendetanya orang Belanda yang juga fasih berbahasa Indonesia mengangkat soal Yesus yang dalam sengsaraNya diolok-olokan. Yesus tidak membalas olok-olokan itu, namun DIA menyerap semua olok-olokan tersebut karena Yesus mengerti ada ‘luka’ di dalam diri orang-orang yang mengolok-olokNya. Orang-orang tsb bisa dikelompokan menjadi 4 (empat) kelompok:
 
1. Orang yang memiliki kekecewaan karena berada di posisi yang rendah
Diwakili oleh para prajurit yang mengolok-olok Yesus dengan berkata “Salam, hai raja orang Yahudi” sementara juga mereka bersikap amat kurang ajar terhadap Yesus. Prajurit-prajurit ini rendahan mungkin memiliki pengalaman pahit karena posisinya yang lemah di bawah komando orang lain.
 
2. Orang yang memiliki kekecewaan karena gagal mencapai ambisinya
Diwakili oleh orang-orang yang lewat di tempat Yesus disalibkan. Mereka berkata “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”. Dengan kata lain mereka mau bilang “Ya begitulah jadinya nasib orang yang ambisius”.  Orang-orang yang mengolok-olok demikian mungkin memiliki pengalaman pahit karena mereka sendiri pernah mengalami kegagalan dalam mencapai ambisi pribadinya.
 
3. Orang yang memiliki kekecewaan dalam hubungan rohaninya dengan TUHAN
Diwakili oleh imam-iman kepala & ahli-ahli Taurat yang mengolok-olok Yesus dengan berkata “IA menaruh harapanNYA pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya. Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah”. Apa yang mereka katakan itu bisa jadi merupakan ungkapan kekecewaan dalam diri mereka yang tidak mendapatkan hubungan rohani dengan Tuhan sebagaimana yang mereka harapkan bisa mereka miliki.
 
4. Orang yang memiliki kekecewaan karena memiliki latar belakang hidup yang buruk
Diwakili oleh penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Penyaliban Yesus seolah menunjukan pada mereka bahwa tak ada bedanya jadi orang baik atau jadi orang jahat. Dan olokan itu menjadi cermin bahwa ada kekecewaan dalam diri orang tersebut atas dirinya yang tidak bisa menjadi sebaik yang dia sebenarnya inginkan.
 
Yesus menyerap semua olokan tersebut. DIA merasakan serta memahami segala kekecewaan & luka batin. Yesus menyerap & membawa segala olokan beserta kekecewaan & luka batin manusia bersama kematianNya. DibawaNya ke dalam kerajaan maut … hingga kemudian pada hari ketiga YESUS bangkit dalam kemenangan yang sempurna.
 
Kesengsaraan, kematian & kebangkitan Yesus sekaligus juga menunjukan bahwa kita memiliki Tuhan yang tidak hanya selalu dalam keadaan Haleluya. Kita memiliki Tuhan yang memahami segala penderitaan bahkan mampu menanggungnya. Sekaligus pula menjadi teladan bagi kita untuk mampu menanggung olokan/celaan yang ditujukan orang pada kita. Kesengsaraan bisa menjadi sarana untuk menunjukan kekuatan iman orang Kristen. Kesengsaraan juga bisa menjadi jalan untuk kita menemukan Tuhan yang sesungguhnya yaitu Tuhan yang bukan hanya menjanjikan kesuksesan & keberhasilan, tetapi TUHAN yang berkuasa  memberikan kekuatan bagi kita untuk menanggung salib & bangkit dalam kemenangan yang sempurna.
 
Sang pendeta juga memberi beberapa contoh nyata orang yang tidak membantah olokan namun menunjukan pemahamannya atas situasi yang perlu untuk dihadapi dan diatasi. Salah satu contohnya adalah Barack Obama, kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat.
Berikut ini video singkatnya:
 [y.a]

0 Responses to “Barrack Obama di Jum’at Agung di Arnhem”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply