Wageningen, 27 Februari 2008
Tadi malam, malam trakhir persiapan ujian, ditengah break makan malam secara (tidak) kebetulan saya dengerin siaran di Radio Nafiri FM http://nafirifm. bukitzion. com:1071/. Pembicaranya menceritakan tentang pengalamannya sewaktu masih di SMA. Saat itu ia merasakan sukacita yang luar biasa dalam hatinya. Meskipun hari itu nilai ulangannya pas jeblok, jemputan ditungguin 1 jam belum datang-datang juga, tengah hari sedang panas-panasnya dan beberapa hal lainnya yang bisa saja jadi alasan untuk menambah kusut harinya. Tapi semuanya gak bisa membendung sukacita yang dirasakannya. “nilai jelek masih bisa di-her; syukur masih ada yang jemput saya pulang; terutama syukur karena anugerah keselamatan yang saya terima karena karya kasih Tuhan Yesus”.
Mendengar itu, jujur saya merasa tertegur. Dalam minggu tenang terus terang saya merasa gentar ngebayangin ujian nanti. Maklum mata kuliah kali ini bacaannya banyak banget. Dari siaran radio yang saya dengar itu saya tersadar bahwa saya telah secara gak sadar sudah membiarkan sukacita saya direnggut. Kegentaran saya menjadi awan mendung yang menghalangi sang surya menyinari hari saya. Padahal sang surya masih ada disana: keluarga saya terplihara dalam keadaan baik di Indonesia sana, saya yang dapat ksempatan kuliah di Wageningen, ada teman-teman yang baik hati merangkumkan bacaan-bacaan itu, masih bisa terima email (& sekali-kali YM:)) dari teman-teman, diberi kesehatan, masih bisa belanja ke C1000, dan hal-hal baik lainnya yang TUHAN karuniakan pada saya, terutama sekali TUHAN Yesus yang sudah mau mati bagi saya.
Tambah lagi (tidak) kebetulan juga pagi tadi saat mau berangkat ujian saya trima email dari seorang yang teramat saya kasihi di Indonesia sana, katanya: “kesusahan dan kesulitan itu diijinkan Tuhan terjadi sebagai bagian proses latihan untuk membuat kita semakin kuat”. Plus lagi pesannya yang amat meneduhkan hati “Kalau memang merasa sudah maksimal belajar, terima bahwa memang sudah segitu kemampuanmu, jangan lupa bersyukur atas kekuatan, hikmat yang diperoleh dari-Nya. Saya akan mendukungmu dengan berdoa selama mgikuti Ujian (supaya bisa menjawab setiap soal dengan maksimal). OK, have a nice day jangan biarkan sukacitamu hilang karena Ujian ini, habis ujian kan bisa liburan/main untuk menghilangkan perasaan “boring”, terus habis Ujian juga bisa nelfon aku, Oks?”. Jadi pagi tadi saya berangkat dengan hati lega, tanpa beban menghadapi ujian. Bukan terus ujiannya jadi gampang, hanya kenyataannya hati yang bersukacita dan bersyukur menjadikan hari indah semakin indah.
Begitu pentingnya pengaruh suasana hati hingga Alkitab mencatatnya
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)
“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15)
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13)
Ini dapet lagunya Project Pop yg judulnya SYUKUR. Satu baris lirik lagu ini bilang “aku bersyukur pada
TUHAN karena besar kasihNYA akupun diciptakan jadi manusia” Hanya sori gambar & suaranya gak match & lagunya juga gak sampe habis. Anyway smoga terhibur.
Semangaaaaaaat. GBU. (y.a.)
Wah, lucu lagunya. Mantap.