Kamu mendaftar di Universitas mana?

Pertanyaan seorang teman memaksa aku untuk membuka buku kecil tempat menuliskan segala info tentang StuNed. He..he..he…, gara-gara hanya untuk melengkapi syarat StuNed, Universitas tempat pendaftaranpun belum tercover di memoriku. Sampai saat itu aku masih menyayangkan kelambatan Universitas Leiden membalas emailku dan sebaliknya kecepatan CSA WUR meresponku.

Membandingkan Leiden dengan Wageningen mungkin semudah membalik tangan. Kota Leiden sudah aku dengar sejak masa Sekolah Dasar. Buku sejarah dan informasi banyak menulis tentang kota ini, entah karena rujukan sejarah ataupun hukum Indonesia, maupun tokoh-tokoh perjuangan Indonesia yang kebanyakan menyelesaikan studinya di sini.

Anyway, kali ini tentang Wageningen. Saat menerima kepastian dari Mbak Siska, mulailah aku meminta bantuan Om Google menyusuri Kota ini.  Klik map: The Netherlands: OMG!  tidak ada yang namanya Wageningen! Klik Wageningen, barulah Kota kecil ini muncul. Jalur train: lho kok nggak ada? Kok turun di Ede? Di mana pula itu?

He..he..he.. Itulah perkenalanku yang pertama dengan Wageningen, yang memajang “city of life science” sebagai “merk” kotanya. Menuju ke sini, dari Amsterdam Schipol belilah tiket ke Ede-Wageningen statiun. Biasanya ada kereta yang langsung ke Ede Wageningen (KA dengan tujuan akhir Nijmegen), tapi jadwalnya lebih lama dibanding yang ke Utrecht Central. Di Utrecht Central (kalo memilih yang tidak langsung), pindahlah ke KA yang menuju ke Nijmegen. Sistem perkereta-apian negeri kecil ini sangat tertata dengan rapi, sehingga memudahkan kita melihat informasi jalur-jalur, waktu keberangkatan dan nomor peron di layar besar yang ada di tiap statiun.

Tiba di Ede-Wageningen statiun, turunlah ke tangga keluar dan langkahkan kaki ke arah kiri. Di situ sudah menunggu (kalopun belum ada, layar yang lebih besar dari layar RCTI di depan bundaran HI siap membantu dengan informasi keberangkatan) bus 88: Ede – Wageningen. Dari sini bersiap-siaplah untuk memasuki “city of life science”.

Droevendaalsesteeg adalah halte pertama, dengan beberapa gedung pusat kuliah WUR: Forum, Gaia, Lumen dan Atlas. Selanjutnya berturut-turut ada beberapa pemberhentian yang penting untuk diingat karena merupakan tempat pemberhentian untuk student housing WUR. Halte Hoevestein (untuk Hoevesten dan Asserpark), Bornsesteeg, Dijkraaf dan Haasteeg (untuk Haarweg, sekaligus halte terjauh dari student housing).

Bus 88 akan mengakhiri tugasnya di Wageningen Centrum. Di sini segala perlengkapan hidup bisa dipenuhi. Mulai dari toko serba ada semacam Albert Heijn dan Supercoop, toko pakaian semacam Hema, toko kosmetik seperti Etos, toko barang seperti Blokker, dan macam-macam toko lainnya termasuk Toko Indrani untuk bahan makanan khas Asia (supermi, bumbu dapur: cabe, lengkuas, kunyit, sayur seperti kangkung, dll) dan Zam-Zam, toko Timur Tengah yang khusus menyiapkan daging halal dan beberapa bumbu Timur Tengah dan Asia lainnya.

Kebutuhan pakaian lebih baik dikoleksi di sini karena di saat tertentu toko-toko akan menawarkan diskon yang super gila, dan biasanya bahan pakaian di sini lebih representatif untuk digunakan di sini (terutama musim dingin) dibandingkan yang dari Indonesia. Yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah membawa sendiri rice cooker dari Indonesia. Selain lebih murah, faktor jenis dan fungsi juga menjadi alasan utama.

Di sini sangat sulit menemukan rice cooker berukuran kecil dan kalopun menunggu warisan dari kakak-kakak sebelumnya, kapan dan kondisinya bagaimana dulu (he..he..he…, sori). Untuk pakaian, sepatu dan peralatan lainnya (rice cooker sekali-kali juga ada, setrika, kursi belajar, meja, sofa, pemanas, oven, kulkas, dll, bisa dilihat di sini), toko second hand seperti Emmaus, tera de hommes dan Kringlop bisa menjadi pilihan lain. Selain kualitasnya yang masih bagus (tergantung kita milihnya), harga yang ditawarkan pun sangat sangat menarik.

Untuk hidup di Wageningen, segala kebutuhan makan bisa dijamin. Buktinya anak-anak PD Wageningen bisa mengadakan apa saja sesuai talenta dan tingkat stress dan kebosanan masing-masing. Kalo lagi stress atau bosan, bisa bermunculan bakso, rujak, nasi kuning, rempeyek, risoles, ikan woku, dan bermacam-macam hidangan lainnya yang serasa mengembalikan suasana Indonesia di kampung kecil ini. Ajang Persekutuan Doa Wageningen setiap bulan telah disepakati (secara tidak resmi) sekaligus sebagai ajang unjuk kekuatan masak-memasak (he..he..he..). Kami juga sering mengadakan acara khusus dengan kumpul-kumpul seperti ini.

Btw, Wageningen selain dikenal sebagai “city of life science” juga memiliki cerita tersendiri tentang kekalahan Jerman di PD 2. Di kota kecil inilah pada tanggal 5 Mei 1945, penarikan pasukan Jerman disepakati. Penandatanganan hasil kesepakatan tanggal 6 Mei 1945 di Aula Wageningen University menandai era baru bagi negara-negara Eropa dan memulai pengiriman 10,000 kuntum tulip ke Kanada. Info dan foto kemeriahan 5 Mei, bisa diklik di sini.

Pengen tahu sedikit lagi tentang Wageningen? Silakan klik di sini atau di sini

5 Responses to “Ada Apa di Wageningen?”


  1. 1 desty September 25, 2008 at 5:47 am

    Semoga tahun depan bisa kuliah di wageningen. Udah ngincar MSc Plant Science di WU…

  2. 2 pdwageningen September 25, 2008 at 4:05 pm

    Halo Desty,
    Ditunggu ya, supaya PD kita lebih PeDe lagi :D

  3. 3 Ninin December 8, 2008 at 7:20 am

    oya, buat mas/mbak yang punya blog ini
    bisa minta tolong alamat email mbak tini ga ya?
    catatanku dulu ilang…
    lihat foto2 ma video jadi kangen banget nih sama wageningen…
    makasih sebelum & sesudah ya

  4. 4 Bob March 1, 2009 at 2:08 am

    halo, saya sedang apply STUNED 2009. sudah dapat admission letter dari wageningen university. Semoga kita bisa berjumpa di sana. saya ambil Msc International Development studies. mohon dukungan dalam doa.

  5. 5 meis April 29, 2009 at 12:28 pm

    to Ninin: pernah di Wage? Kalo pernah dan terlibat di PD Wageningen; join aja dengan milis pd wageningen group. Di situ nanti bisa dapat lamat emailnya Kak Tini.
    to Bob: AMIN


Leave a Reply