Bergaul dengan Allah

Wageningen 30 November 2008,

“Setelah Henokh hidup enam puluh tahun, ia memperanakkan Metusalah. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, setelah ia memperanakkan Metusalah, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan. Jadi Henokh mencapai umur tiga ratus enam puluh lima tahun. Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.”  (Kejadian 5:21-24, LAI)

 

Saat pertama membaca bagian Alkitab ini, wow rasanya gak terbayangkan bagaimana hidup bergaul dengan Allah itu. Hingga suatu saat Saya mendengar khotbah Ev. Yusak Tjipto dan diingatkan kembali bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah ‘Firman Yang Telah Menjadi Manusia’. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1, LAI).

 

Jadi amatlah bisa diterima akal bahwa bergaul dengan Allah dapat dilakukan dengan menekuni Firman Tuhan. Amat beruntunglah kita yang memiliki Alkitab, karena berarti memiliki peluang besar untuk bergaul karib dengan Tuhan. Pertanyaannya adalah: apa kesempatan itu mau digunakan atau malahan dibiarkan berlalu begitu saja? Saya sendiri jadi merasa ditantang untuk membaca habis Alkitab dari Kejadian s/d Wahyu. Apalagi mengingat fakta bahwa satu tahun pertama di Wageningen Saya mampu menghabiskan sekian banyak materi kuliah yang sekian tebalnya itu. Tambah lagi saya ingat pula apa yang dikatakan Pak Anton (pembimbing PA kami) bahwa apa yang dituliskan dalam Alkitab itu adalah apa yang Tuhan ingin untuk manusia ketahui; yang perlu untuk manusia ketahui.

 

Pesan dalam Ibadah tadi pagi di ICF kembali menegaskan itu. Menekuni Firman Tuhan adalah juga menjadi satu kunci untuk menjadi ‘a believing believer’ yaitu menjadi orang percaya yang bukan saja memercayai apa yang Tuhan telah dan dapat lakukan di masa lalu dan masa yang akan datang tetapi juga mempercayai apa yang dapat dilakukanNya saat ini, sekarang ini.

 

Bergaul dengan Tuhan. Apakah mungkin? Pasti mungkin. Apakah mau? Ini dia …

(y.a.)

 

 

Advertisements

Penginjil Lulusan TU Delft

 

Wageningen, 03 September 2008

 

Sampai di depan kamar tadi malam ada perasaan lega. Selepas menghabiskan beberapa waktu di kampus melototi artikel-artikel ilmiah – bukan karena hobi tapi karena tuntutan scenario: nyelesaikan studi di negara orang ini 🙂 – sampai di kamar bagaikan tiba di sebuah resor. Makan malam plus segelas jus tomat lumayan memulihkan kesegaran raga yang letih. Sambil juga menghibur diri dengan nonton beberapa film seri favorit di TV. Habis itu niatnya mau nyempatkan nengok-nengok 1 artikel ilmiah lagi. Mumpung lagi semangat! Hanya rencananya mau mengistirahatkan mata sebentar dulu. Alarm Hp sudah saya setting untuk berbunyi 0,5 jam lagi. Sebagai pengantar tidur saya buka Winamp untuk dengerin siaran radio NafiriFM . Pikir saya biasanya jam-jam segitu bakal diputer lagu-lagu rohani yang beat-nya kalem & lembut. Namun rupanya saat itu sedang disiarkan khotbah dari Ev. iin Cipto.

 

Kali itu bukan pertama kalinya saya dengar beliau berkhotbah. Suaranya khas. Berat. Membuat Saya membayangkan Ev. iin cipto ini usianya setidaknya mendekati 50-an. Cara membawakannya juga khas: tegas, tidak ada keraguan tersirat dalam nada suaranya. Penuh kuasa! Khotbahnya kali itu tentang ‘Kecantikan itu dari dalam’, mengupas karakter Abigail yang dicatat I Samuel 25:2-43. Sambil membaringkan badan dan memejamkan mata saya ikuti khotbah beliau. Membumi sekali ulasannya juga kesaksian-kesaksian yang dikutipnya dalam mengungkapkan kebenaran firman Tuhan tersebut. Mulai dari pengembangan karir, hubungan suami istri, dan bimbingan orang tua bagi anaknya.

 

Alhasil saya tidak jadi tidur. Selesai khotbah itu timbul keinginan untuk lebih tau tentang Ev. Iin Cipto.Saya Google nama beliau. Lalu muncul beberapa link. Dari salah satunya Saya ketahui bahwa ternyata Ibu Iin Cipto ini lulusan tahun 1992 dari TU Delft, Belanda sebagai MSc of Architecht (gak disebutkan apakah sponsornya Ford, FNP, StuNed, University or lainnya). Dari fotonya beliau ternyata tak setua yang saya bayangkan sebelumnya. Wajahnya cantik, manis. Dalam khotbahnya malam itu dengan nada bercanda beliau bilang “setiap orang yang mencintai Tuhan dan FirmanNya, pancaran sinar wajahnya membuatnya lebih putih dari aslinya”. 🙂

 

Tahun 1998, Tuhan memberinya visi untuk membangun tentara Tuhan yang militan dari anak-anak pemulung, jalanan, golongan orang-orang yang dibawah garis kemiskinan. Pelayanannya begitu diberkati Tuhan. Pada tahun 2004, Wadah ini, Mahanaim, sekarang ada 9 rumah singgah, pelayanan ke daerah-daerah yang belum terjangkau oleh gereja-gereja. Ada TK, SD, SMP, memberi makan gratis tiap hari pada yang membutuhkan dan bea siswa kepada ±3.000 anak yang hampir putus sekolah karena tidak ada biaya.

 

Bagi yang penasaran mau mendengar khotbahnya bisa klik link INI. Judulnya “Tanpa Tuhan Semua Sia-sia”. Natsnya dari Mazmur 127. Semoga jadi berkat. (y.a.)

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mazmur 127:1)

 

Surga dan Neraka?

Silakan menikmati diskusi yang kami lakukan di milis kami. Diskusi ini terbuka untuk siapa saja, silakan ditanggapi.

Rekans,
menyambung obrolan hangat beberapa waktu lalu di milis kita,dimana bermunculan berbagai pertanyaan retorik (Zefiri, 2008) yg menarik,menggelitik …….ntah knapa jd ingat sebuah cerita, yg bertahun2 terbaca di sebuah site (lupa namanya….. .bisa jd sumbernya jg tdk reliable), tp buat sy tetep menarik utk dibaca,krn sst yg tersirat didalamnya sebenernya sederhana tp dalam…..Krn ternyata msh ada di-sent item sy, so enjoy it,lumayan panja
ng so…..enak ni pas break ngetik,sambil makan eastern express besok siang……. Kl dah pernah baca..…jangan protes

SURGA ATAU NERAKA?
Ada tercatat suatu saat Sir Edmund Burke, tokoh terkenal dalam sejarah kerajaan Inggris, berteman baik dengan seorang tokoh yang juga sama terkenalnya, seorang teologian, berprofesi sebagai pendeta. Bahkan raja dan ratu datang menghadiri kebaktiannya di setiap minggu, tapi Edmund Burke tidak pernah hadir.
Suatu saat, si pendeta bertanya, “Mengapa kawan, kau tidak pernah mau datang…. bahkan raja, ratu, seluruh keluarga kerajaan, pelajar-pelajar terkemuka datang di kebaktianku. Tapi engkau, sahabat yang paling baik, selalu menolak. Kumohon, datanglah paling tidak sekali saja.” Jawab Burke, “Justru karena saya sahabat terbaikmulah, saya tidak bisa hadir, tapi karena kau memaksa, baiklah, minggu besok saya datang, bersiaplah.”
 
Pendeta : “Apa maksudmu : Bersiaplah?”
Burke : “Segalanya akan jelas saat saya datang ke gerejamu.”
Sahabat ini lantas mempersiapkan kebaktian misa yang indah, ia ingin membuat Edmund Burke benar-benar tertarik. Pada saatnya tibalah Edmund Burke. Sepanjang misa pendeta terus memperhatikan perubahan wajah Burke – tapi tiada munculnya tanda-tanda emosi, perasaan atau dampak apapun terhadap apa yang dikotbahkannya. Orang ini duduk diam bak sebuah batu. Ini membuat pendeta gelisah dan nervous.
Dan sampai tiba di acara tanya jawab, Burke adalah orang pertama yang bangkit berdiri! Dia bertanya, “Saya hendak bertanya. Disebutkan dalam kotbahmu barangsiapa yang baik, suci, percaya Tuhan akan masuk surga. Dan orang yang bertindak jahat, tidak percaya Tuhan masuk ke api abadi di neraka.” “Menurut saya adalah, Anda terlalu menyederhanakan persoalan. Saya ingin tahu: Jika seorang bertindak baik dan suci batinnya tapi tidak percaya kepada Tuhan, kemana dia akan pergi? Sebaliknya seorang yang jahat tindakannya, namun percaya kepada Tuhan, kemana perginya?”
Untuk sesaat sang teologian ‘hilang’ dalam kebingungan, sebab jawab apapun yang diberikannya bisa menimbulkan masalah susulan. “Maafkan saya, saya tidak dapat menjawabnya seketika.”
“Saya mengerti” jawab Burke. “Sebab seluruh kotbahmu bukan berasal dari suatu yang spontan. Anda cuma seperti burung beo. Yang menyedihkan, Anda tidak punya jawabnya, tapi berani mengotbahkan siapa yang kan ke surga dan siapa yang ke neraka.”
“Beri saya 7 hari. Minggu depan saya akan menjawabnya, ” kata pendeta. 7 Hari berikut adalah hari-hari yang sangat berat bagi si teologian. Dia sudah berusaha keras, segala cara. Kesimpulan apapun yang didapat tampaknya keliru. Jika seseorang, tidak percaya Tuhan, namun memiliki kebajikan – kita tidak dapat mengirimnya ke neraka, karena akan timbul keraguan, apa gunanya berbuat bajik? Sebaliknya seseorang pengikut Tuhan namun cela dalam tindakannya – juga tidak dapat kita kirimkan ke surga; perbuatan dosa, kejahatan, apakah tidak ada artinya? Jika begitu apa gunanya berbuat baik atau jahat? Semakin lama dipikir, semakin gelisahlah si pendeta, ia tidak bisa tidur.
Dan minggupun tibalah. Pendeta ini datang ke gereja 1 jam lebih awal, Tetap tanpa jawaban. Ia berdoa kepada Yesus, “Tuhan, tolonglah, di Alkitab, buku-buku lain sampai isi perpustakaan tidak jua kutemukan jawabnya. Edmund Burke benar, kini ia membuat masalah tidak cuma kepada saya, tapi juga kepada seluruh kongregasi gerejaMu. Kini terserah Tuhan apakah berkenan menolong saya.”
Pendeta bertelut di bawah patung Yesus, terus berdoa mohon petunjukNya. Karena sudah 7 hari sulit tidur, akhirnya ia jatuh tertidur. Ia bermimpi. Dalam mimpinya, ia sedang duduk di dalam kereta, bersama penumpang2x lain. “Kemanakah kereta ini pergi dan kemana saya akan dibawa?” Jawab mereka, “Kereta ini menuju surga.”
Kata pendeta, “Oh baik sekali, lebih baik saya menyaksikan sendiri seperti apa orang-orang di sana.” Iapun melamun, jika saja ia dapat bertemu Socrates, Gautama Buddha, Mahavira… berarti kebajikan, ketulusan hati, kesederhanaan sudah cukup. Tidak perlu lagi percaya kepada Tuhan ….. tapi jika ia tidak dapat bertemu mereka, lantas orang-orang seperti paka gerangan yang akan dijumpainya nanti – sebab Adolf Hitler percaya Tuhan, Napoleon Bonapartepercaya Tuhan, Alexander Agung juga percaya Tuhan, tapi tetap saja membunuhi orang! Nadirshah percaya Tuhan, namun kesenangannya membakar orang hidup2x! Jika saya bertemu mereka di surga, habislah sudah; saya harus menyatakan kebenaran kepada gereja saya.
Tiba di surga. Ia tak dapat mempercayai penglihatannya, Stasiun tampak dekil, kumuh, berantakan. Ada pelang bertulisakan ‘SURGA’ namun huruf2x nyaris pudar, kotor, hampir roboh. Dalam hatinya… apakah saya tiba di India atau apa?! Ini bukan surga. Surga macam apakah ini?
Tapi dilanjutkannya turun dari kereta, pergi ke kantor stasiun, namun kosong, tidak ada orang. Dilanjutkannya perjalanan, dijumpainya sekumpulan orang, kepada mereka ia bertanya, “Saya ingin mencari orang-orang berikut : Buddha Gautama, Socrates, Pythagoras, Heraclitus, Epicurus, Mahavira, Lao Tzu.” “Tidak pernah dengar tentang mereka,” jawab penghuni surga. Para penghuni ini .. kurus kering, bagaikan sari hidupnya telah habis diperas keluar semuanya, pucat, tanpa ekspresi. Ia bertanya,”Siapakah mereka?” Yang seorang adalah seorang suci – ia pernah mendengar nama itu, yang lain adalah Ekhart, yang lainnya lagi St Francis…. Para orang suci ada di sana, duduk dalam keadaan telanjang, tanpa sehelai benangpun menutupi. Ia bertanya kepada mereka apakah ada musim semi di sana, tapi dijawab: “Apa maksudnya dengan musim semi? Belum pernah dengar istilah itu sebelumnya.” Tidak ada lagu, tiada keceriaan. tiada pesta.
“Ya Tuhan!” seru sang pendeta. Lapis-lapisan debu menempel di sekujur penampilan rang-orang ini. Seluruh tempat bagaikan tak pernah dikunjungi hujan selama berabad-abad. Seluruhnya tampak kering kerontang, tidak ada tanda-tanda kehijauan – tidak ada bebungaan, wangi-wangian. Seumur hidupnya ia belum pernah melihat tempat seburuk ini. “Ya Tuhan, jika surga adalah seperti ini, ini adalah tempat yang berbahaya!”
Sang pendeta buru-buru kembali ke stasiun, dan menuntut segera bertolak menuju neraka. Ia membatin, jika surga saja sudah seperti ini, neraka mau seburuk apa lagi? Tapi saat kereta kian mendekati tujuan, udara semakin bertambah sejuk dan berbau harum. Setibanya di stasiun, ia melihat pria wanita dewasa, anak-anak semua dalam wujud yang indah, tampak bahagia.
Ujarnya, “Ya Tuhan, ini pasti ada yang salah. Tempat ini seharusnya adalah surga, tiap orang tampak begitu bahagia.” Iapun turun dari kereta dan bertanya,”Apakah kalian pernah mendengar nama Bodhidharma, Basho, Socrates, Gautama Buddha, Confusius?” Jawab mereka, “Mereka adalah orang-orang yang telah merubah tempat ini. Dahulu neraka adalah tempat yang busuk, mengerikan, tapi sejak kedatangan mereka, seluruh wajah neraka telah diubahnya. Sekarang semuanya tampak hijau, bagaikan oasis. Kami punya cinta, kami punya kidung nyanyian, ada musik. Tunggulah hingga malam tiba, saat setiap orang berdansa, bernyanyi, bermain musik. Sekarang setiap orang sedang bekerja di ladang.
Lihatlah…. itu Socrates sedang bekerja di ladang.”
Jawaban ini benar-benar mengejutkan sang pendeta. Dan iapun terbangun tepat di saat jam kebaktian dimulai. Kebetulan jemaat yang sudah hadir sedang mengelilinginya sambil bertanya-tanya heran, ada apa, apakah dia pingsan, atau tertidur? Edmund Burke juga telah duduk menunggu di barisan depan.
Pendeta inipun menjawab dalam kotbahnya, “Saya telah berusaha keras, tapi tidak menemukan jawabannya. Saya baru saja mendapatkan mimpi, dan saya akan menghubungkan mimpi ini dengan jawaban saya, dan kalian dapat menarik kesimpulan masing-masing. Kesimpulan saya sendiri adalah sebagai berikut : Maafkan, selama ini apa yang saya sampaikan adalah keliru. Bukanlah menjadi isu atau pertanyaan apakah orang baik, orang suci akan masuk ke surga; melainkan kemanapun orang baik dan suci pergi, mereka akan menciptakan surga. Dan percaya kepada Tuhan adalah keyakinanmu pribadi.
(Vivi)

Menjaga Hati Menghadapi Ujian

Wageningen, 27 Februari 2008

 

Tadi malam, malam trakhir persiapan ujian, ditengah break makan malam secara (tidak) kebetulan saya dengerin siaran di Radio Nafiri FM http://nafirifm. bukitzion. com:1071/. Pembicaranya menceritakan tentang pengalamannya sewaktu masih di SMA. Saat itu ia merasakan sukacita yang luar biasa dalam hatinya. Meskipun hari itu nilai ulangannya pas jeblok, jemputan ditungguin 1 jam belum datang-datang juga, tengah hari sedang panas-panasnya dan beberapa hal lainnya yang bisa saja jadi alasan untuk menambah kusut harinya. Tapi semuanya gak bisa membendung sukacita yang dirasakannya. “nilai jelek masih bisa di-her; syukur masih ada yang jemput saya pulang; terutama syukur karena anugerah keselamatan yang saya terima karena karya kasih Tuhan Yesus”.

 

Mendengar itu, jujur saya merasa tertegur. Dalam minggu tenang terus terang saya merasa gentar ngebayangin ujian nanti. Maklum mata kuliah kali ini bacaannya banyak banget. Dari siaran radio yang saya dengar itu saya tersadar bahwa saya telah secara gak sadar sudah membiarkan sukacita saya direnggut. Kegentaran saya menjadi awan mendung yang menghalangi sang surya menyinari hari saya. Padahal sang surya masih ada disana: keluarga saya terplihara dalam keadaan baik di Indonesia sana, saya yang dapat ksempatan kuliah di Wageningen, ada teman-teman yang baik hati merangkumkan bacaan-bacaan itu, masih bisa terima email (& sekali-kali YM:)) dari teman-teman, diberi kesehatan, masih bisa belanja ke C1000, dan hal-hal baik lainnya yang TUHAN karuniakan pada saya, terutama sekali TUHAN Yesus yang sudah mau mati bagi saya.

 

Tambah lagi (tidak) kebetulan juga pagi tadi saat mau berangkat ujian saya trima email dari seorang yang teramat saya kasihi di Indonesia sana, katanya: “kesusahan dan kesulitan itu diijinkan Tuhan terjadi sebagai bagian proses latihan untuk membuat kita semakin kuat”. Plus lagi pesannya yang amat meneduhkan hati “Kalau memang merasa sudah maksimal belajar, terima bahwa memang sudah segitu kemampuanmu, jangan lupa bersyukur atas kekuatan, hikmat yang diperoleh dari-Nya. Saya akan mendukungmu dengan berdoa selama mgikuti Ujian (supaya bisa menjawab setiap soal dengan maksimal). OK, have a nice day jangan biarkan sukacitamu hilang karena Ujian ini, habis ujian kan bisa liburan/main untuk menghilangkan perasaan “boring”, terus habis Ujian juga bisa nelfon aku, Oks?”. Jadi pagi tadi saya berangkat dengan hati lega, tanpa beban menghadapi ujian. Bukan terus ujiannya jadi gampang, hanya kenyataannya hati yang bersukacita dan bersyukur menjadikan hari indah semakin indah.

 

Begitu pentingnya pengaruh suasana hati hingga Alkitab mencatatnya
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22)
“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta.” (Amsal 15:15)
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” (Amsal 15:13)

 

Begitu pentingnya bersukacita hingga rasul Paulus menuliskannya dengan diikuti tanda seru“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

 

Tinggal kita lagi mau memilih bersukacita apa gak? Anyway mungkin ada rekan yang punya data ilmiah tentang hubungan hati yang gembira dengan keberhasilan?

 

Ini dapet lagunya Project Pop yg judulnya SYUKUR. Satu baris lirik lagu ini bilang “aku bersyukur pada
TUHAN karena besar kasihNYA akupun diciptakan jadi manusia” Hanya sori gambar & suaranya gak match & lagunya juga gak sampe habis. Anyway smoga terhibur.
Semangaaaaaaat. GBU.   
(y.a.) 

 

 

 

 

 

Barrack Obama di Jum’at Agung di Arnhem

Jum’at Agung tahun 2008 PD Wageningen diajak Kak Tini Saloh mengikuti kebaktian di GKIN (Gereja Kristen Indonesia Netherlands) di kota Arnhem.
Pembacaan Firman Tuhan-nya dari Matius 27:27-50. Pendetanya orang Belanda yang juga fasih berbahasa Indonesia mengangkat soal Yesus yang dalam sengsaraNya diolok-olokan. Yesus tidak membalas olok-olokan itu, namun DIA menyerap semua olok-olokan tersebut karena Yesus mengerti ada ‘luka’ di dalam diri orang-orang yang mengolok-olokNya. Orang-orang tsb bisa dikelompokan menjadi 4 (empat) kelompok:
 
1. Orang yang memiliki kekecewaan karena berada di posisi yang rendah
Diwakili oleh para prajurit yang mengolok-olok Yesus dengan berkata “Salam, hai raja orang Yahudi” sementara juga mereka bersikap amat kurang ajar terhadap Yesus. Prajurit-prajurit ini rendahan mungkin memiliki pengalaman pahit karena posisinya yang lemah di bawah komando orang lain.
 
2. Orang yang memiliki kekecewaan karena gagal mencapai ambisinya
Diwakili oleh orang-orang yang lewat di tempat Yesus disalibkan. Mereka berkata “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”. Dengan kata lain mereka mau bilang “Ya begitulah jadinya nasib orang yang ambisius”.  Orang-orang yang mengolok-olok demikian mungkin memiliki pengalaman pahit karena mereka sendiri pernah mengalami kegagalan dalam mencapai ambisi pribadinya.
 
3. Orang yang memiliki kekecewaan dalam hubungan rohaninya dengan TUHAN
Diwakili oleh imam-iman kepala & ahli-ahli Taurat yang mengolok-olok Yesus dengan berkata “IA menaruh harapanNYA pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya. Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah”. Apa yang mereka katakan itu bisa jadi merupakan ungkapan kekecewaan dalam diri mereka yang tidak mendapatkan hubungan rohani dengan Tuhan sebagaimana yang mereka harapkan bisa mereka miliki.
 
4. Orang yang memiliki kekecewaan karena memiliki latar belakang hidup yang buruk
Diwakili oleh penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Penyaliban Yesus seolah menunjukan pada mereka bahwa tak ada bedanya jadi orang baik atau jadi orang jahat. Dan olokan itu menjadi cermin bahwa ada kekecewaan dalam diri orang tersebut atas dirinya yang tidak bisa menjadi sebaik yang dia sebenarnya inginkan.
 
Yesus menyerap semua olokan tersebut. DIA merasakan serta memahami segala kekecewaan & luka batin. Yesus menyerap & membawa segala olokan beserta kekecewaan & luka batin manusia bersama kematianNya. DibawaNya ke dalam kerajaan maut … hingga kemudian pada hari ketiga YESUS bangkit dalam kemenangan yang sempurna.
 
Kesengsaraan, kematian & kebangkitan Yesus sekaligus juga menunjukan bahwa kita memiliki Tuhan yang tidak hanya selalu dalam keadaan Haleluya. Kita memiliki Tuhan yang memahami segala penderitaan bahkan mampu menanggungnya. Sekaligus pula menjadi teladan bagi kita untuk mampu menanggung olokan/celaan yang ditujukan orang pada kita. Kesengsaraan bisa menjadi sarana untuk menunjukan kekuatan iman orang Kristen. Kesengsaraan juga bisa menjadi jalan untuk kita menemukan Tuhan yang sesungguhnya yaitu Tuhan yang bukan hanya menjanjikan kesuksesan & keberhasilan, tetapi TUHAN yang berkuasa  memberikan kekuatan bagi kita untuk menanggung salib & bangkit dalam kemenangan yang sempurna.
 
Sang pendeta juga memberi beberapa contoh nyata orang yang tidak membantah olokan namun menunjukan pemahamannya atas situasi yang perlu untuk dihadapi dan diatasi. Salah satu contohnya adalah Barack Obama, kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat.
Berikut ini video singkatnya:
 [y.a]

Boneka Kelinci Tanpa Baterai

Saya ingat dulu di televisi pernah ada iklan satu produk baterai tertentu yang icon-nya boneka kelinci warna merah muda yang membawa alat musik simbal. Diiklan itu dipromosikan betapa awetnya baterai itu hingga saat dipakaikan ke si boneka kelinci dia bisa terus bergerak memainkan simbalnya tanpa henti.

Sebuah ilustrasi serupa disampaikan seorang pembicara beberapa tahun silam, saat Saya mengikuti kebaktian kaum muda. Temanya tentang doa. “Doa adalah nafas hidup orang Kristen” begitu beliau sampaikan. “Serupa halnya dengan boneka kelinci itu yang tanpa baterai tak dapat dia bergerak, demikian juga hakikatnya tanpa doa seorang Kristen sesungguhnya tidak dapat hidup” demikian tambahnya.

Beberapa hari ini kalimat itu muncul di pikiranku. Membuat Saya bertanya pada diri sendiri: “Jangan-jangan selama ini Saya sudah berhenti bernafas.” Jadi membayangkan diri ini seperti zombie di film-film horror, yang bisa bergerak tapi sesungguhnya sudah mati.  Ya bukankah doa menjadi jalan bagi orang Kristen untuk membina hubungan pribadi yang erat dengan Bapa di Surga – Sang Pemberi Hidup Sejati, sebagaimana juga telah diteladankan oleh Yesus Kristus selama hidupNya di bumi? Kalau Yesus yang adalah Tuhan selalu menyediakan waktu untuk berdoa, bukankah berarti doa itu amat penting dan karenanya Saya yang adalah manusia yang lemah perlu melakukannya? Kata Yesus sebagaimana dicatat dalam Markus 14:38 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah”.

“Ambillah keselamatan sebagai topi baja, dan perkataan Allah sebagai pedang dari Roh Allah. Lakukanlah semuanya itu sambil berdoa untuk minta pertolongan dari Allah. Pada setiap kesempatan, berdoalah sebagaimana Roh Allah memimpin kalian. Hendaklah kalian selalu siaga dan jangan menyerah. Berdoalah selalu untuk semua umat Allah.” (Efesus 6:17-18, BIS) Saya kira Iblis pasti senang kalau orang Kristen tidak berdoa, karena bagai prajurit tanpa senjata. Wah daripada jadi bulan-bulanan Iblis, lebih baik Saya mendekat tinggal dengan Yesus Sang Pokok Anggur Yang Benar. Ayo berdoa. Semangaaaat!

 

Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” Yohanes 15:5-8

 

 

It’s about the Cross

Alunan suara “go fish” menghiasi hari-hari menyambut Natal di Wageningen. Alunan nada dan syair yang di Malam Natal sama-sama kami alunkan di depan sesama international student yang “harus” melewatkan Natal di Wageningen.

Continue reading ‘It’s about the Cross’